Manding, Jumat 18 Oktober 2019

 

Royalan adalah kegiatan turun menurun yang dilakukan masyarakat dengan maksud slametan, sedekah desa dan ungkapan syukur kepada Tuhan. Rasa syukur ini dilakukan oleh masyarakat atas melimpahnya air yang selalu mengaliri desa Manding, Pucanglaban.

Hal tersebut sangat berbeda dengan desa-desa lain di daerah Pucanglaban yang terdampak kekeringan di kala kemarau tiba. Masyarakat Manding tetap dapat menikmati air bersih di segala musim, sehingga masyarakat di sini terutama para petani sangat bersyukur atas situasi ini. Petani di Manding bahkan bisa sampai panen raya hingga tiga kali per-tahunnya.

Asal-usul kata Royalan sudah tak terlacak lagi, masyarakat hanya meneruskan istilah yang dipakai para sesepuh terdahulu. Menurut seorang tokoh desa di Manding, Royalan sendiri adalah persamaan kata dari ulur-ulur yang lebih halus dan lebih dikenal oleh masyarakat di daerah lain. Walaupun kata Royalan secara bahasa lebih kasar, tetapi penggunaan kata ini lebih khas dipakai di desa Manding ketimbang ulur-ulur.

Pelaksanaan tradisi ini idealnya dilakukan pada tanggal 10 bulan 10 Masehi.  Meskipun begitu, terkadang waktu pelaksanaanya bisa juga berubah karena beberapa hal. Masyarakat di sini biasanya memilih hari baik menurut tanggalan Jawa, yakni hari Jumat Legi. Kadang kala juga karena masalah-masalah tertentu, hingga menyebabkan masyarakat mengundurnya sampai beberapa bulan, tetapi mereka pasti tetap akan melaksanakan ritual ini.

Para sesepuh, tokoh desa dan pejabat kelurahan saling bekerja sama dalam mengawal pelaksanaan dan segera mungkin membentuk panitia pelaksana. Setelah waktu pelaksanaan sudah ditentukan, woro-woro dan undangan akan segera disebar kepada masyarakat desa Manding dan sekitarnya.

Antusias dari luar desa Manding juga tidak bisa diabaikan. Mereka datang karena mereka semua ikut merasakan nikmat air yang bersumber di Manding ini. Pada prinsipnya, ritual Royalan ini tidak hanya terkhusus masyarakat Manding saja.

Lokasi acara berada di sekitaran petilasan Mbah Umbul, yang letaknya berdekatan dengan Telaga Umbul. Mbah Umbul sendiri dipercaya masyarakat sebagai tokoh pertama yang menemukan telaga dan babat desa Manding, Pucanglaban.

Acara ini dimulai sejak pagi hari, para warga berbondong-bondong datang dan berkumpul dengan membawa ambeng atau panganan dan sajen. Ketika acara dimulai para sesepuh akan memimpin doa dengan warga yang ditujukan kepada para leluhur dan tawassul kepada yang Maha Pencipta. Kemudian para peserta akan makan bersama di samping petilasan.

Kalau zaman dulu, ada juga tradisi Tiban yang dilakukan masyarakat setempat setelah acara makan sajen. Pelaksanaan tradisi Tiban ini mirip dengan upacara karbalah bagi kaum Syiah di Iran, yakni dengan memukulkan benda keras atau mencabuk diri. Maksud dari upacara Tiban sendiri adalah untuk meminta hujan ataupun meminta keselamatan dari Sang Kuasa. Tetapi untuk saat ini upacara Tiban sudah ditinggalkan dan dilarang untuk dilaksanakan.

Acara dilanjutkan setelah luhur, sekitar jam setengah dua siang. Pada sesi ini akan ditampilkan seni tradisional khas Jawa, seperti Barongan, Macanan dan yang wajib ditampilkan adalah pertunjukan seni Jaranan yang Asli dari Desa Manding yaitu “Turonggo Umbul Pangayoman”. Setelah tampilan kesenian-kesenian ini usai, kemudian acara selesai dan ditutup. Para warga pun berangsur-angsur pulang dengan membawa sisa-sisa gawanannya kembali ke rumah masing-masing.

Meskipun tidak tahu kapan awal mulanya, tetapi ritual ini merupakan sebuah keniscayaaan bagi masyarakat Manding untuk tetap melaksanakan tradisi dan nguri-nguri budaya. Ini sebagai ekspresi masyarakat untuk mengetahui sejarahnya melalui sebuah ritual.

 

Dokumentasi Acara Ritual Punden Umbul Jumat 18 Oktober 2019 : Slametan, Larung Sesaji, Penyerahan Hadiah Mancing Mania, Pentas Jaranan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana reaksi anda mengenai artikel ini ?